Jumat, 17 Juli 2009

Siluet Senja

Yuliani / 9.2 – Juara 1 Menulis Cerpen Islami
BGMKP 2008

“Ibu, apa ibu mau aku buatkan teh hangat?”
“Tidak.”
“Ibu mau makan?”
“Tidak, Nduk. Ibu hanya ingin menunggu bapakmu.”
“ …”
Itulah beberapa percakapan singkat kami malam ini. Ibu selalu menjawab itu setiap kali aku Tanya. Aku lebih baik diam dan membiarkan ibu berdiam diri dengan semua kenangannya. Entah kenapa, semenjak kematian bapak, ibu lebih sering berdiam diri. Pernah suatu ketika, aat itu ibu tertidur lelap, beliau terus memanggil nama bapak dan menangis. Kasihan ibu …
Setelah kematian bapak, kehidupan kami berbalik bahkan berputar seratus delapan puluh derajat. Jika dulu ada kehangatan dalam canda tawa, kini hanya ada kesepian dalam prahara jiwa. Jika dulu ada bangga dalam rasa, kini hanya ada luka dalam dada. Meninggalkan rintih dalam pedih, pilu …
Malam semakin mencekam. Lewat cahaya rembulan yang merona pucat pasi, binatang malam menemani dinginnya dunia dalam sepinya alam, angin berhembus, sepi. Hanya itu teman sejati ibu untuk menjemput hari esok yang masih sama.
***
Sang mentari duduk indah dalam kursi singgasananya. Titik-titik embun menetes pasrah meninggalkan kisah lalu untuk kembali menulis kisah hari ini. Kicauan burung menambah cerahnya dunia dalam indahnya alam.
Aku bergegas menyiapkan semua hal untuk hari ini, setelah sholat shubuh selesai kulakukan. Mulai dari jadwal pelajaran, makanan hingga koran yang siap aku jajakan.
“Ibu, ini makanan untuk ibu sudah aku siapkan. Ibu jangan lupa memaknnya. Aku tidak mau ibu sakit. Yudi berangkat dulu ya,Bu? Assalamu’alaikum ….”
“Wa’alaikum salam warahmatullah …”
***
Sepulang sekolah, aku terbiasa menjajakan Koran. Mulai dari pemberhentian jalan hingga mendatangi para pelanggan. Tak ada yang istimewa hanya untuk meringankan beban ibu.
Tapi, siang ini matahari terasa panas menyengat tubuh meninggalkan titik-titik keringat dalam bajuku hingga kuputuskan untuk pulang.
Sesampainya di rumah, aku melihat ibu duduk di kursi rodanya sembari melihat keluar. Tatapannya kosong, hampa tak berarti apa-apa. Tak terasa, butiran hangat membanjiri pipiku.
“Assalmu’alaikum …”
“Wa’alaikum salam …”
Hanya itu jawaban itu, sangat singkat. Kemudian beliaupun kembali pada lamunannya yang sempat terusik oleh kehadiranku.
Seusai sholat asar, aku menemui ibu sambil membawa teh hangat kesukaannya.
“Nduk, ibu mau bertemu dengan bapak Ibu rindu bapak..”
Deg! Ucapan itu menembak jantungku. Perih, tak sanggup menahan semua ini.
“Ibu, Ibu mau makan lagi?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Tidak, Nduk. Ibu ingin bertemu bapak…”
Ya Allah, kuatkanlah aku …. Aku tak sanggup menerima semua cobaan ini. Perlahan aku meletakkan the itu dan bersimpuh di hadapan ibu. Akupun mencium tangan ibu. Tetapi aku merasakan ada hal ganjil dalam tatapan ibu. Pertanda apakah ini, Ya Allah ??? Aku mengangkat wajahku. Oh Ya Allah … wajah itu, wajah penuh kedamaian dengan senyuman tersungging membingkai bibir.
Ibu, wanita yang selama ini setia menemaniku kini telah pergi, melayang damai menjemput asa menggapai cita untuk bertemu bapak.
“Ibu, kini ibu bias bertemu dengan bapak yang menjadi impian ibu selama ini. Semoga ibu bahagia …”
Aku tak kuasa lagi, luka, pilu, perih, tak berdaya. Tapi harus kuakui bahwa setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, siapapun, dimanapun dan kapanpun itu. Satu do’aku, semoga Allah swt mengampuni semua dosa kedua orangtuaku dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisiNya. Amiiin …

****Selesai***

SAPI DI MADURA

Teman, sudah pernah melihat sapi berlomba yang ada di Madura belum? Kalau di Madura sich sudah biasa, karena sapi-sapi yang ada disana juga bukan sembarangan sapi. Lihat saja badannya gemuk+sehat, juga dimandikannya setiap hari dan diberi makan 50 telur ayam/bebek setiap hari (wah…benar-benar kuat yach). Hal ini sengaja di lakukan untuk kegiatan karapan.
Dahulu kurang lebih sejak I M, Pangeran Katandur telah mengajak orang-orang untuk lebih mencintai sapi. Karena seluruh tanah yang ada di Madura waktu itu tandus semua, sampai tak ada orang yang dapat mencangkulnya. Akhirnya sapi-sapi Madura yang berusaha membantu. Setelah berakhir, warga dapat berpanen segala jenis tumbuhan.
Dan sapipun dinobatkan sebagai hewan keramat di Madura, juga sebagai rasa untuk mengenang sapi, selalu diadakan lomba menunggang sapi. Bahkan pernah mendapatkan juara lho….hebat bukan???
Oleh: Nisa f n (8-8)

Kamis, 04 Juni 2009

1. Go! Go! Go! Ayo maju terus pramuka MTs N Garut, jangan menyerah! Raihlah berbagai tropi kejuaraan untuk mengharumkan nama bangsa, eh…lepat, hilap deui nami skola anu leresna mah.
  Hai kawan-kawan, inget gak pada anak-anak pramuka MTs N yang pada karasep dan gareulis tea? Mereka itu sanajan carentil and gumasep, tapi bisa mengharumkan nama sekolah kita. 
  Terakhir kali menjurai LBB pakai tongkat pada tanggal 10 Mei 2009 di SMAN 1 Garut, keren gak? Tapi kawan-kawan, bukan cuma itu aja lho, masih banyak kejuaraan-kejuaraan yang pernah diikuti mereka. Hayu ku pribados di sebatkeun:
1. Masuk 10 besar LBB se-Jabar di UNPAD Jatinangor. 
2. Juara 2 LBB tongkat se-kabupaten Garut di Ambalan Kiansantang – Citaresmi, SMAN 1 Garut.
3. Juara 1 MTQ putri se-Jabar di Wide Game Pembangunan VI Cimahi.
4. Juara 2 MTQ putra se-Jabar di Wide Game Pembangunan VI Cimahi
5. Juara 3 umum LBB se-Kab. Garut di Pesona Pelajar SMA N 19 Bayongbong.
6. Juara komandan terbaik dan terfavorit LBB tongkat se-kabupaten Garut di Ambalan Kiansantang – Citaresmi, SMAN 1 Garut
Tuh hebat, kan …..?! Makanya kita sebagai siswa-siswi MTsN Garut kudu bangga. Tapi semua itu tidak terlepas dari dukungan Bapak Ibu guru, terutama Ibu Sri yang cantik, sabar and percaya diri dalam melatih anak asuhnya.
Siiip lah!


2. Kunjungan Pak Bupati Kab. Garut, Bapak Aceng Fikri, ke MTsN Garut.
 Tahukah teman-teman, bahwa Bapak Bupati Garut adalah alumni MTsN Garut? Beliau saat itu diajari fiqih oleh Bp. Drs. Usep Setiawan. Guru-guru lain yang juga mengajar beliau adalah Pak Rohana, S.Ag, Pak Tatang Sobirin, S.Ag, Pak Drs. Kamal. Bisa dibayangkan betapa bangga hati bapak-bapak guru, ya, ternyata salah satu anak didiknya menjadi inohong di kota kita tercinta ini. Tentu saja dengan harapan beliau tetap menjaga kejujuran dan keikhlasan dalam berjuang dan melayani seluruh warga Garut.
 Nah, pada saat UN yang lalu, beliau sempat berkunjung ke sini. Monitoring sekaligus bernostalgia. Suasananya akrab dan penuh canda. 

 


   

Kakak-kakak bersalaman setelah beres UN. Gimana tuh rasanya ?

Bapak Bupati berfoto bersama para guru yang telah berjasa dalam perjalanan hidupnya.

KEMBALILAH

Ketika kau mengucapkan kata-kata itu
Ku tak bisa berkata –kata lagi 
Selain meneteskan air mata 
Hati ku perih ,sedih ,tersiksa 
   
Ingin rasanya saat itu ku katakana semua isi hati ku 
Betapa ku tak ingin kau jauh dari ku
Namun hanyalah tetesan haru 
Yang dapat mewakiliku 

Ku mohon, jangan tinggal kan aku
Ku mohon, kembalilah padaku 
Ku merindukan mu ……
Kakak ku…..

Dalam hati selalu ku tasbihkan 
Namun dengan asma nya
Hatiku memanggil mu 
Kemanakah kau pergi..?? 

Kini hanya air mata yang menemaniku 
Mengapa kau meninggal kan ku ?
Ku harap kau kembali pada ku 
Dan menjemputku dalam sunyinya dunia ini….

Puisi ini ku persembah kan untuk semua kakak kelas IX di MTsN Garut …
Rhienasta,8.7


LUKA KU

Kau tak akan mengerti bagaimana
Kesepianku
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta 
Kau tak akan mengerti segala lukaku

Karena cinta telah sembunyikan pisaumu
Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan

Engau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
Aku tungku dan api
  (DK 87

Sebuah Penantian

Berjuta debu 
Seribu gemburu 
Seindah pelangi 
Seceria warna –warni
Setumpuk rasa rindu 
Seratus Tanya
Berkali pesan 
Ungkapan lantunan cinta 

Dimana cinta itu ?
Siapa dia ?
Bagaimana dia ?Dan 
Untuk siapa dia.  


Ketika Ujian Allah Menyapa

Bumi ku menangis lagi
Darah ini keluar deras
Patriot ku telah hilang 
Duka ku tak dapat ku tahan
Manis ini menjadi pahit
Bumi telah menelannya
Duka ku ini menembus ulu hati 
Ada apa dengan Hercules N 1350??

Apa ini rencana Mu,Ya Rabb??
Ada apa dengan khatulistiwa ini?
Ada apa dengan jiwa-jiwa ini?
Ampunilah kami,Terimalah kami

Kita meyakini selain ujian dari Allah manusia juga ikut andil dalam setiap musibah yang terjadi…..
   
Selamat hari kebangkitan Nasional

Selamat jalan Patriotku

See you later

 HaniFah 8.9